Rabu, 14 April 2010

struktur perkembangan tumbuhan 1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Tumbuhan yang ada dimuka bumi ini sangat beraneka ragam. Manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak lepas dari tumbuhan, baik itu tumbuhan obat, sebagai bahan sandang, bahan perumahan, sebagai tanaman hias dan sebagainya. Manusia berkecimpung dalam dunia tumbuhan entah sadar atau tidak mereka telah berusaha mengenal tumbuhan, mengidentifikasi, memberi nama dan mengelompokkannya menurut tujuannya masing-masing.
Tumbuh dan berkembang merupakan ciri makhluk hidup. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan seiring. Pertumbuhan adalah proses pertambahan volume yang irraversibel (tidak dapat balik) karena adanya pembelahan mitosis atau pembesaran sel, dapat pula disebabkan oleh keduanya. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kutintatif, contohnya pertumbuhan batang tanaman dapat diukur dengan busur pertumbuhan atau auksanometer. Perkembangan adalah terspesialisasinya sel-sel menjadi struktur dan fungsi tertentu.
Daun merupakan suatu organ tubuh tumbuhan yang amat penting dan pada umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tumbuhan (Sebastian, 2008).
Maka dengan adanya praktikum ini, kita akan semakin paham dan dapat lebih mengenal macam-macam duduk daun (phyllotaxia) dan diagram duduk daun. Selain itu kita juga dapat mengerti tentang tata letak daun pada batang (dispositio foliorum).
1.2Tujuan
Mengenal bagian-bagian daun pada tumbuhan tersebut, menghitung jumlah daun pada tiap buku, mengetahui rumus daun dan perhitungannya, serta mengetahui sudut divergensi dan menentukan diagram menurut rumus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bukan hal yang sulit untuk menemukan bagian tanaman khususnya daun. Daun atau bagian daun seting ditemukan dalam berbagai bentuk banyaknya macam bentuk atau modifikasinya itu menjadikan pemkiran bagi botanis untuk membuat penamaan yang tepat dengan kaidah yang diciptakan oleh botanis, tetapi juga tidak meninggalkan kaidah umum yang dianut oleh masyarakat, sehingga dari diskripsinya dapat dikenal bentuk daun atau organ lain. Macam daun dapat dibedakan menjadi lima, yaitu : (Gembong,2005 : 21-22).
1.Daun hijau (folium, dalam arti yang sempit, merupakan organ yang digunakan untuk fotosintesis
2.Katafil (cataphyllum), adalah sisik pada kuncup atau tunas ketiak dan pada batang bawah tanah fungsi utam adalah untuk pelindung dan penyimpan makanan.
3.Propil ( propyhll), daun pertama pad ranting, biasanya pada tumbuhan monokotil berjumlah sehelai dan pada tumbuhan dikotil berjumlah dua helai.
4.Hipsofil (hipsophyll), biasanya bentuk lebih kecil dari daun hijau dan bentuknya berbeda sama sekali, letaknya melekat pada bagian dasar perbungaan istilah popular disebut pelindung atau braktea.
5.Kotiladon( cotyledon), adalah daun pertama pada tumbuhan
Bagian daun
1.Upih daun atau pelapah daun (vagina), merupakan bagian daun yang melekat atau memeluk batang
2.Tangkai daun (petiolus) merupakan bagian daun yang mendukung helaiannya dan berfungsi untuk menempatkan helaian daun pada posisi sedemikian rupa sehingga daopat memperoleh cahaya matahari sebanyak-banyaknya. Bentuk dan ukuran tangkai berbeda-beda menurut jenis tumbuhannya, biasanya berbentuk silinder dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada pangkalnya.
3.Helaian daun( lamina) merupakan bagian daun yang terpenting dna cepat menarik perhatian, maka suatu sifat yang sesungguhnya hanya berlaku untuk helaiannya, disebut pula sebagai sifat daunnya.
Ketiga bagian daun tersebut tidak senantiasa ditemukan bersama-sama pada satu helai daun. Suatu tumbuhan dapat memperhatikan bentuk daun yang berlainan pada satu pohon, oleh karena itu dikatakanmemperlihatkan sifat heterofili. Gejala heterofili ini dapat terjadi karena umur, modifikasi atau memang mempunyai daun yang berbeda yang diakibatkan oleh perubahan fungsinya. Sifat-sifat daun yang biasanya diberikan dalam pengenalan suatu jenis tumbuhan adalah bentuk, ukuran, ujung, pangkal, susunan tulang-tulang/ urat-urat daun, tepi daging, permukaan atas/ bawah tekstur, warna dan lain-lain. (Gembong, 2007 : 21-22).
Perkembangan bentuk daun tanaman yang diamatitidak berbeda dengan induk konvensional yang terlihat dari bentuk daun muda yang umumnya agak oval (bulat telur). Seiring dengan bertambahnya umur tanaman, daun mengalami
perubahan bentuk dan pada umur dewasa bentuk daun agak mirip segitiga, pada bagian bawah berlekuk dan lekukan makin jelas dengan bertambahnya umur tanaman. Permukaan daun bagian atas maupun bawah rata. Warna daun hijau muda pada umur muda dan bertambah hijau pada saat tanaman dewasa. Warna tangkai daun hijau sedangkan pangkal batang yang berada di dalam tanah putih. Warna umbi bagian luar agak cokelat muda keputih –putihan dengan kulit umbi yang mudah terkelupas. Umbi bagian dalam berwarna putih dan memiliki getah. Hasil yang sama juga ditemui pada penampilan morfologi tanaman se famili dengan keladi tikus (Araceae) yaitu Alocasia micholitziana asal kultur kalus yang sama dengan induknya setelah diperbanyak di rumah kaca (Thao et al., 2003). Kondisi yang sama pada tanaman keladi tikus asal kultur kalus ini sama secara visual dengan keladi tikus asal kultur jaringan pada tahap plantlet, baik dalam bentuk daun maupun batang (Syahid dan Kristina, 2007).
Dengan demikian karena penampilan visual plantlet keladi tikus asal kultur kalus sama dengan plantlet kultur jaringan diperkirakan peningkatan keragaman sempit seperti dikemukakan oleh De klerk (1990), bahwa tidak terlihatnya perbedaan secara fenotipe tanaman merupakan salah satu cara memperkirakan ada atau tidaknya keragaman yang ditimbulkan. Pada tanaman pegagan yang berasal dari kultur invitro daur kultur panjang (lima tahun), ternyata memiliki stabilitas genetik yang tinggi setelah dianalisis secara molekular karena pola pita protein yang dihasilkan sama dengan induk konvensional (Lailani, 2008).
Banyak factor yang berpengaruh dalam upaya memperoleh variasi pada suatu tanaman hasil kultur in vitro di antaranya sensitivitas jaringan yang digunakan sewaktu perlakuan in vitro dan aplikasi zat pengatur tumbuh terutama jenis auksin yang digunakan sewaktu induksi kalus. Tidak adanya peningkatan keragaman pada tanaman keladi tikus asal kultur kalus mungkin disebabkan oleh aplikasi auksin pada konsentrasi 1,0 mg/l yang dikombinasikan dengan sitokinin (kinetin) pada konsentrasi rendah (Syahid dan Kristina, 2007).
Auksin terutama 2,4-D merupakan golongan zat pengatur tumbuh yang sering digunakan dalam induksi kalus dari berbagai jaringan tanaman (Bhojwani dan Razdan, 1996).
Diduga respon jaringan keladi tikus selama periode pengkulturan in vitro memiliki tingkat sensitivitas yang rendah terhadap aplikasi zat pengatur tumbuh yang diberikan sehingga peluang untuk timbulnya variasi lebih sedikit. Untuk meningkatkan keragaman, kemungkinan aplikasi teknik penggunaan mutagen kimia seperti EMS diharapkan dapat memberi peluang yang lebih nyata. Pada kultur kalus tanaman tomat digunakan kombinasi auksin jenis picloram dengan benzyl adenin dan dari sebelas tanaman hasil regenerasi kultur kalus menghasilkan 10 tanaman yang memiliki tingkat kesamaan genetik (Index of similarity) mencapai 95% dengan induknya dan hanya satu yang berbeda setelah dianalisis secara molekuler (Soniya et al., 2001).
Selain itu lamanya periode pengkulturan dan jumlah sub kultur juga mempengaruhi begitu juga tingkat ploidi suatu tanaman (Silvarolla, 1992 )
Phylotaxis adalah studi tentang posisi daun dan deret-deret yang telah diamati dan dipelajari secara ekstensif dalam tiga pengaturan spiral (Pola dasar alternatif atau spiral). Pola alternatif, daun beralih dari sisi ke sisi. Distichous alternatif phyllotaxis berarti bahwa setiap daun tumbuh di satu simpul dalam satu peringkat disepanjang cabang (seperti pada rumput). Dalam pola yang berlawanan, dua daun tumbuh di arah yang berlawanan dari buku-buku yang sama. Dalam pola sebaliknya, jika berturut-turut pasangan daun tegak lurus, ini disebut Decussate. Sebuah pola batang terdiri dari tiga atau lebih daun di setiap buku-buku. Sepasang daun yang berlawanan dapat dianggap sebagai sebuah lingkaran dari dua daun. Sebuah lingkaran dapat terjadi sebagai struktur dasar di mana semua daun yang melekat pada dasar tunas dan internodes kecil atau tidak ada ( Lofthouse JT.2004: 23).
Bagian batang atau cabang tempat duduknya daun disebut buku-buku batang (nodus). Dan bagian ini seringkali tampak sebagai bagian batang yang sedikit membesar dan melingkar batang sebagai suatu cincin. Duduknya daun pada batang memiliki aturan yang disebut tata letak daun. Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada batang, harus ditentukan terlebih dahulu berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-buku batang (Soepomo, 2007: 64-65).
Daun terbagi menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Pada daun majemuk terdapat sejumlah anak daun yang melekat pada tangkai daun atau panjanganya. Sumbu bersama seperti itu disebut rakis. Jika anak daun muncul di sisi lateral rakis, daun disebut daun majemuk bersirip, dan kalau semua anak daun muncul di ujung rakis yang sangat pendek sehingga dapat dikatakan melekat di ujung tangkai daun bersama, maka daun seperi itu disebut daun majemuk menjari. Selain jenis daun juga dapat diketahui rumus daun untuk mengetahui tata letak suatu daun (Estiti,1995: 196).
Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada batang, harus ditentukan terlebih dahulu berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu buku-buku batang diantaranya (Sudarsono, 2005: 63).
1. Pada Tiap-Tiap Buku-Buku Batang Hanya Terdapat Satu Daun
Tata letak daunnya dinamakan : Tersebar (Folia sparsa) Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun pertama tadi mengelilingi batang a kali,dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah b, maka perbandingan kedua bilangan tadi akanmerupakan pecahan a/b, yang dinamakan juga : Rumus daun atau Divergensi (Sudarsono, 2005: 64).
Garis-garis tegak lurus (Garis vertikal) yang menghubungkan antara 2 daun pada batang dinamakan: Ortostik. Garis piral melingkari batang yang menghubungkan daun-daun berturut-turut dari bawah ke atas menurut urutan tua mudanya dinamakan : Spiral genetik. Pecahan a/b menunjukkan jarak sudut antara dua daun berturut-turut, jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak sudut antara dua daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600, yang disebut : sudut divergensi. Tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, ternyata pecahan a/bnya, dapat terdiri atas pecahan-pecahan : ½, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. yang disebut deret Fibonacci. Angka-angka diatas memperlihatkan sifat berikut: (Sudarsono, 2005: 64).
- Tiap suku dibelakang suku kedua (jadi suku ketiga dst.) merupakan suatu pecahan, yang pembilangnya dapat diperoleh dengan menjumlah kedua pembilang dua suku yang ada di depannya, dan penyebutnya merupakan hasil penjumlahan kedua penyebu dua suku yang di depannya.
- Tiap suku dalam deretan itu merupakan suatu pecahan yang pembilangnya merupakanselisih antara penyebut dan pembilang suku yang di depannya, dan penyebutnya adalah jumlah penyebut suku di depanya dengan pembilang suku itu sendiri (Sudarsono, 2005: 65).
Pada tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, kadang-kadang duduk daun rapat berjejal-jejal karena ruas-ruas batang amat pendek, sehingga duduk daun pada batang tampak hampir sama tinggi, dan sangat sukar untuk menentukan urut-urutan tua mudanya. Daun-daun yang mempuyai susunan demikian disebut suatu : roset (rosula). Roset ada 2 macam: (Sudarsono, 2005: 65).
a. Roset akar,
yaitu jika batang amat pendek, sehingga semua daun berjejal-jejal diatas tanah, contoh: pada lobak (Raphanus sativus L.) dan tapak liman (Elephantopus scaber L.).
b. Roset batang
jika daun yang rapat berjejal-jejal itu terdapat pada ujung batang, contoh: Pada pohon kelapa (Cocos nucifera L.) dan bermacam –macam palma lainnya. Pada cabang-cabang yang mendatar atau serong keatas, daun-daun dengan tata letak tersebar dapat teratur sedemikian rupa pada suatu bidang datar, dan membentuk suatu pola seperti mosaik (Pola karpet). Susuna daun yang demikian itu disebut mosaik daun.
2. Pada Tiap Buku-buku Batang Terdapat Dua Daun
Pada setiap buku-buku terdapat 2 daun yang berhadapan (terpisah oleh jarak sebesar 1800). Pada buku-buku batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan dua daun yang dibawahnya tadi. Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berhadapan-bersilang (Folia opposita atau Folia decussata), ch. pada mengkudu (Morinda citrifolia L.), soka (Ixora poludosa Kurz.), dll. (Sudarsono, 2005: 65).
3. Pada Tiap Bulu-buku Batang Terdapat Lebih Dari Dua Daun
Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berkarang (Folia verticillata),dapat a.l. ditemukan pada pohon pulai (Alstonia scholaris R.Br.), alamanda (Allamanda cathartica L.), oleander (Nerium oleander L.) (Sudarsono, 2005: 66).
a. Bagan tata letak daun
Batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar membujur ortostikortostiknya demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang melintang helaian daun yang kecil. Pada bagan akan terlihat misalnya pada daun dengan rumus 2/5 maka daun-daun nomor 1, 6, 11, dst atau daun-daun nomor 2, 7, 12, dst akan terletak pada ortostik yang sama (Sudarsono, 2005: 66).
b. Diagram tata letak daun atau disingkat diagram daun
Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada setiap lingkaran berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti pada pembuatan bagan tadi dan di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5 lingkaran, jadi setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetikya dalam diagram daun akan merupakan suatu garis spiral yang putarannya semakin keatas digambar semakin sempit (Sudarsono, 2005: 67).
Spirostik dan Parastik merupakan garis-garis ortostik yang biasanya lurus ke atas, dapat mengalami perubahan-perubahan arah karena pengaruh bermacam faktor. Garis-garis ortostik dapat menjadi garis spiral yang tampak melingkari batang pula. Dalam keadaan yang demikian spiral genetik sukar untuk ditentukan, dan letak daun pada batang mengikuti ortostik yang telah berubah menjadi garis spiral tadi, keadaan ini dinamai: Spirostik. Spirostikterjadi karena pertumbuhan batang tidak lurus tetapi memutar. Akibatnya ortostiknya ikut memutar dan berubah menjadi spirostik, contoh: (Sudarsono, 2005: 67).
- Pacing (Costus speciosus Smith), mempunyai satu spirostik.
- Bupleurum falcatum, mempunyai dua spirostik.
- Pandan (Pandanus tectorius Sol.), memperlihatkan tiga spirostik.
Pada tumbuhan yang letak daunnya cukup rapat contoh: kelapa sawit (Elaeis guinensis), duduk daun seakan-akan menurut garis-garis spiral ke kiri atau kekanan. Tampaknya lalu ada dua spiral ke kiri dan kekanan. Garis-garis spiral ini disebut: Parastik. Juga garis-garis spiral yang tampak pada buah nenas yang menunjukkan aturan letak mata-mata pada buah nenas tadi adalah parastik-parastik(Sudarsono, 2005: 68).
Jika kita membandingkan duduknya daun pada berberapajenis tumbuhan , ternyata bahwa ada perbedaan, terutama perbedaan itu mengenai auran letak daun-daun satu sama lain pada batang tadi. Aturan megenai letaknya daun inilah yang dinamakan tata letak daun. Untuk tumbuhan yang sejenis ( misalnya pada tanaman pepaya) akan didapati tata letak daun yang sama, oleh sebab itu tata letak letak daun dapat dipakai pula sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan (Soepomo, 2007 : 65).
Berdasarkan jumlah helai daun pada setiap tangkai, kita mengenal adanya daun tunggal dan daun majemuk. Daun majemuk dibedakan ke dalam daun majemuk menyirip, daun majemuk menjari, dan daun majemuk campuran, bergantung pada cara penyusunan anak daun pada tangkai daun. Daun majemuk juga dapat dibedakan ke dalam daun majemuk gasal dan daun majemuk genap. Daun majemuk menyirip dapat dibedakan menjadi daun majemuk ganda 2, ganda 3, dan seterusnya. bergantung pada letak anak daun pada anak tangkai ordo ke-2, ke-3, dan seterusnya. Daun melekat pada bagian buku-buku batang. Jumlah daun pada setiap buku dapat terdiri dari satu daun (tersebar), dua daun (berhadapan) atau berkarang (3 daun atau lebih). Meskipun tersebar, letak daun tetap teratur mengikuti rumus tata letak daun yang membentuk deret Fibonacci (Nurul,2008 : 155).

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1Hasil Pengamatan
No
Gambar Pengamatan
Gambar Literatur
Keterangan
1
Bougenvil (Bougenvil sp.)

www.stuartxchange.org
1.Termasuk daun tidak lengkap.
2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.
3.Tata letaknya tersebar.
4.Rumus daun 2/5, sudut divergensi 2/5 x 360˚ = 144˚.
2
Tempuyung (Sonchus arvensis L.)






ditsayur.hortikultura.deptan.go.id
1.Termasuk daun lengkap.
2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.
3.Merupakan roset akar.
4.Tidak memiliki rumus daun.
3
Kersen atau ceri (Muntingia calabura)






commons.wikimedia.org
1.Termasuk daun tidak lengkap.
2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.
3.Tata letak tersebar.
4.Rumus daun 1/2, Sudut divergensi 1/2 x 360˚ = 180˚.
4
Soka (Ixora hibrida)
www.flickr.com
1.Termasuk daun tidak lengkap.
2.Jumlah daun pada tiap buku: 2.
3.Tata letaknya berhadapan.
4.Tidak memiliki rumus daun.
5
Alamanda (Allamanda cathartica L.)






www.stuartxchange.org
1.Termasuk daun tidak lengkap.
2.Jumlah daun pada tiap buku 5.
3.Jumlah daun keseluruhan 15.
4.Tata letaknya berkarang tidak memiliki rumus daun.
6
Mengkudu (Morinda citrifolia L.)






www.bio.tamu.edu
1.Termasuk daun lengkap.
2.Jumlah daun pada tiap buku ada yang 2 dan 1 daun.
3.Tata letaknya berhadapan
4.Tidak memiliki rumus daun.
7
Bunga Sepatu (Hibiscus rosasinensis L.)






www.cuyamaca.com
1.Termasuk daun tidak lengkap.
2.Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.
3.Tata letak tersebar.
4.Rumus daun 2/5, sudut divergensi 2/5 x 360˚ = 144˚.




Keterangan :
1. Bagian-bagian daun
2. jumlah daun pada tiap buku-bukunya
3. Tata letak daun
4. Rumus daun dan sudut divergensi



3.1Pembahasan
3.1.1Daun Soka (Ixora hybrida)
Pada pengamatan tata letak daun Soka (Ixora hybrida hasil dari pengamatan daun Soka adalah termasuk daun tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai, helaian daun dan tidak memiliki pelepah daun. Jumlah daun pada tiap buku sebanyak dua dan tata letak daunnya berhadapan serta tidak memiliki rumus daun khusus.
Hasil yang kami amati sesuai dengan apa yang telah tercantum dalam literatur. Menurut Rukamana (1997) pada daun Soka Letak daun (Ixora hybrida) berhadapan, baik pada tiap percabangan maupun ranting. Daun umumnya berwarna hijau kekuning-kuningan atau sering disebut (variegata) (Rukmana, 1997).

3.1.2 Daun Sepatu (Hibiscus rosasinensis L.)
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari pengamatan daun sepatu (Hibiscus rosasinensis L.) adalah termasuk daun tidak lengkap karena mempunyai tangkai daun, helaian daun dan tidak mempunyai pelepah daun.
Setelah kami amati, jumlah daun pada tiap buku sebanyak satu daun dan tersebar. Daun ini setelah kami amati mempunyai rumus daun yaitu 2/5 yaitu kita melihat daun pertama letaknya sama dengan daun ke enam begitu juga daun ke dua sama dengan daun ke tujuh, karena melewati 5 daun. Sudut divergensinya 2/5 x 360˚ = 144˚.
Di habitat alam, tanaman sepatu tumbuh sebagai tanaman perdu tahanan (perennial). Susunan tubuh terdiri atas akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Tanaman sepatu ini memumpunyai akar tunggang coklat muda. Batangnya bulat, berkayu, keras ,berdiameter kurang lebih 9cm. Daunya tunggal, tepi beringgit, ujungnya runcing, pangkal tumpul, panjang 10-16cm dan lebarnya 5-11cm berwarna hijau muda dan hijau. Bunganya berbentuk terompet, diketiak daun bewarna hijau kekuning-kuningan, mahkota terdiri dari 15-20 daun mahkota, berwarna merah muda. Buahnya kecil lonjong berdiameter kurang lebih 4 meter masih muda berwarna putih setelah tua berwarna coklat. Bijinya pipih dan putih (Sebastian, 2008).
Daun, bunga dan akar kembang sepatu (Hibicus rosasinensis) mengandung flavoinida, disamping itu daunnya mengandung sponin dan polifenal. Daun ini berkhasiat sebagai obat demam pada anak, obat batuk dan obat sariawan (Muzayyinah, 2008).

3.1.3 Daun Bugenvil (Bougenvillia spectabilis)
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun bugenvil (Bougenvillia spectabilis) adalah termasuk daun tersebar (folio sparsa), mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440
Bugenvil termasuk suku kampah-kampahan atau family Nyctaginaceae. Tanaman ini hidupnya tahan (perennial) berbentuk perdu dan bersifat merambat (memanjat) maupun tegak (Rukmana, 1997).
Struktur batang merupakan pohon berkayu keras penampangya bulat,bercabang dan beranting banyak. Sehingga bila tanaman ini dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 15 meter.pada bagian batang cabang atatupun ranting terdapat duri-duri (spina) yang bentuknya “kait” sebagai alat pemanjat. Daun-daun tumbuh rimbun serta tunggal.bentuknya mirip jantung hati yang dasarnya agak bulat (bundar) dengan warna hijau tua namun, ada pula yang belang-belang (variegata) antara hijau dan putih bercampur kekuning-kuningan. Hal ini yang menarik dari tanaman bugenvil adalah karakteristik bunganya.yaitu bunga asli dan palsu (bractea) (Gembong, 1997).

3.3.4 Daun Alamanda (Allamanda catharica L)
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada praktikum kemarin hasil dari daun alamanda (Allamanda catharica L) adalah termasuk daun berkarang (folio verticillata), mempunyai rumus daun 2/4 dan sudut divergensi 1440
Struktur batang merupakan pohon berkayu keras penampangya bulat, bercabang dan beranting banyak. Sehingga bila tanaman. Ini dibiarkan tumbuh alami dapat mencapai ketinggian 15 meter. Pada bagian batang cabang ataupun ranting terdapat duri-duri (spina) yang bentuknya “kait” sebagai alat pemanjat. Daun-daun tumbuh rimbun serta tunggal. Bentuknya mirip jantung hati yang dasarnya agak bulat (bundar) dengan warna hijau tua namun, ada pula yang belang-belang (variegata) antara hijau dan putih bercampur kekuning-kuningan. Hal ini yang menarik dari tanaman alamanda adalah karakteristik bunganya yaitu bunga asli dan palsu (bractea) (Rukmana, 1995).
3.3.5 Daun Tempuyung (Sonchus arvensis L.)
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukakan bahwa Tempuyung merupakan tanaman berdaun lengkap dimana jumlah daun pada tiap buku satu daun termasuk roset akar dan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki bagian-bagian diantaranya : Helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun. Tempuyung juga termasuk tanaman obat-obatan
Salah satu tanaman yang diperkirakan berkhasiat sebagai anti diare adalah tempuyung. Tempuyung mengandung senyawa flavoid, alkaloid, saponim tanin, dan plifenol (minyak atsiri). Dalam penelitian ini dilakukan uji kualitatif untuk mengetahui ada atau tidaknya zat aktif dalam tempuyung yang dianggap memiliki efek antidiare. Berdasarkan uraian diatas melakkukan penelitian efek antidiare dari etanol daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) pada mencit jantan galur Swiss Webster dengan metode ptoteksi terhadap diare yang di pacu Oleum ricini (Dian panca rini, 2008).
3.3.6 Kersen atau ceri (Muntingia calabura)
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan bahwa ceri Muntingia calabura) merupakan taman Termasuk daun tidak lengkap Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.Tata letak tersebar.Rumus daun 1/2, Sudut divergensi 1/2 x 360˚ = 180˚.
Garis-garis tegak lurus (Garis vertikal) yang menghubungkan antara 2 daun pada batang dinamakan: Ortostik. Garis piral melingkari batang yang menghubungkan daun-daun berturut-turut dari bawah ke atas menurut urutan tua mudanya dinamakan : Spiral genetik. Pecahan a/b menunjukkan jarak sudut antara dua daun berturut-turut, jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak sudut antara dua daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah a/b x 3600, yang disebut : sudut divergensi. Tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, ternyata pecahan a/bnya, dapat terdiri atas pecahan-pecahan : ½, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. yang disebut deret Fibonacci. Angka-angka diatas memperlihatkan sifat berikut: (Sudarsono, 2005: 64).
3.3.7 Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.)
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan pada Daun Mengkudu (Morinda citrifolia L.) bahwa mengkudu termasuk daun lengkap.Jumlah daun pada tiap buku ada yang 2 dan 1 daun.tata letaknya berhadapan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun
Pada setiap buku-buku terdapat 2 daun yang berhadapan (terpisah oleh jarak sebesar 1800). Pada buku-buku batang berikutnya biasanya kedua daunnya membentuk suatu silang dengan dua daun yang dibawahnya tadi. Tata letak daun yang demikian ini dinamakan : berhadapan-bersilang (Folia opposita atau Folia decussata), ch. pada mengkudu (Morinda citrifolia L.), soka (Ixora poludosa Kurz.), dll. (Sudarsono, 2005: 65).






BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang kami lakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pada tanaman asoka (Ixora hybrida), jumlah daun pada setiap buku-bukunya berhadapan bersilang (folio opposite atau folio decussata). Susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Caulis), cabang, daun (folio), bunga (flos), dan biji. Tidak mempunyai rumus daun dan sudut divergensi.
Pada tanaman sepatu (Hibicus rosasinensis) jumlah daun pada setiap buku- buku tersebar (folio sparsa) susunan tubuh tanaman terdiri dari akar (radix), batang (Caulis), daun (folio), bunga (flos), buah, dan biji. Mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440
Pada tanaman bugenvil (Bougenvillea spectabillis) jumlah daun pada setiap buku-buku berkarang (folio verticillata), susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Coulis), ranting, cabang, daun (folio), dan bunga (flos). Mempunyai rumus daun 2/5 dan sudut divergensi 1440
Pada tanaman alamanda (Allamanda cathartica L) jumlah daun pada setiap buku-buku berkarang (folio verticillata), susunan tubuh tanaman terdiri atas akar (radix), batang (Coulis), ranting, cabang, daun (folio), dan bunga (flos). Mempunyai rumus daun 2/4 dan sudut divergensi 1440
Pada tanaman ceri (Muntingia calabura) merupakan taman Termasuk daun tidak lengkap Jumlah daun pada tiap buku 1 daun.Tata letak tersebar.Rumus daun 1/2, Sudut divergensi 1/2 x 360˚ = 180˚.
Pada tanaman Tempuyung merupakan tanaman berdaun lengkap dimana jumlah daun pada tiap buku 1 daun termasuk roset akar dan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki bagian-bagian diantaranya : Helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun.
Pada tanaman Mengkudu (Morinda citrifolia L.) bahwa mengkudu termasuk daun lengkap.Jumlah daun pada tiap buku ada yang 2 dan 1 daun.tata letaknya berhadapan tidak memiliki rumus daun tetapi memiliki helai daun, tangkai daun, batang, dan tulang daun
4.2 Saran
Pada Praktikum kali ini sudah cukup baik karena para praktikan sudah mulai memahami cara mengamati daun berbeda dengan praktikum sebelumnya untuk selanjutnya supaya lebih ditingkatkan lagi




DAFTAR PUSTAKA
Dian panca rini.2008. Jurnal Efek Anti Diare Ektrak Etanol Daun Tempuyung Pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
De klerk, 1990. How To Measure Somaclonal Variation. Acta Botanica Neerlandica. 39 : 129-144.
Lailani, P.K., 2008. Analisis keragaman protein dan fitokimia tanaman pegagan (Centella asiatica) hasil perbanyakan in vitro. Skripsi. Departemen Biokimia, Institut Pertanian Bogor.
Muzayyinah. 2008. Terminologi Tumbuhan. Surakarta: UNS Press
Permadi, Adi. 2006. Tanaman Obat Pelancar Air Seni. Jakarta: Swadaya
Rukmana, Rahmat. 1995. Kembang Bugenvil. Yogyakarta: Kanesus
Rukmana, Rahmat. 997. Kembang Soka. Yogyakarta: Kanesus
Sebastian. 2008. Kembang Sepatu. Jakarta: Word Press.
Syahid, S. F., 2007. Perbanyakan keladi tikus (Typonium flagelliforme) melalui kultur jaringan. Warta Puslitbangbun 2007. 13(3) : 19 - 20.
Syahid, S. F dan N.N. Kristina, 2007. Induksi dan regenerasi keladi tikus (Typonium flagelliforme Lodd.) secara in vitro. Jurnal Penelitian Tanaman Industri. 13(4) : 142-146.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1997. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Tjitrosoepomo,gembong. 2005. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Yogjakarta : UGM Press.
Tjitrosoepomo,gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan . Yogjakarta : Gadjah Mada University Press.
Thao, N.T.P ., Y. ozaki and H. okubo, 2003. Callusinduction and plantlet regeneration in ornamental Alocasia micholitziana. Plant Cell, Tissue and Organ Culture. 73 : 285-289.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar